Pentingnya sikap "bijaksana" (al-Hakim) bagi seorang pelayan publik, di mana kemanusiaan harus tetap dijunjung tinggi sebagai bentuk penghormatan kepada sesama makhluk ciptaan Allah.
BARABAI – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) H. Damanhuri
Barabai menggelar peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW 1447 H yang
dirangkai dengan haul ulama kharismatik Kalimantan Selatan, Syekh Muhammad
Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul) pada Sabtu, 17 Januari 2026. Acara yang
berlangsung khidmat ini menghadirkan KH. Syamsuni Ahmad, Ketua PCNU Kabupaten
Hulu Sungai Tengah (HST), sebagai penceramah utama.
Dalam tausiahnya, KH. Syamsuni Ahmad menekankan bahwa
peristiwa Isra Mi'raj mengajarkan umat manusia untuk menyeimbangkan antara pola
pikir rasional (akal) dan keimanan. Beliau menjelaskan bahwa mengelola
kehidupan hanya dengan akal semata dapat membawa seseorang pada kegalauan dan
kesesatan.
"Bekerjalah profesional sesuai tuntutan akal, namun
iringi dengan hati yang penuh iman. Tanggung jawab kita bukan hanya di dunia,
tapi juga di hadapan Allah," ujar beliau di hadapan jajaran manajemen dan
staf rumah sakit.

KH. Syamsuni juga mengapresiasi keberadaan tim kerohanian
di RSUD H. Damanhuri. Beliau menegaskan bahwa dalam pandangan Islam, ilmu
kedokteran dan kesehatan adalah bagian tak terpisahkan dari agama. Beliau
memberikan contoh menarik mengenai kaitan salat lima waktu dengan kesehatan, di
mana total 17 rakaat dalam sehari mengisyaratkan pola bangun manusia selama 17
jam dan tidur selama 7 jam sebagai durasi istirahat yang ideal.
Direktur RSUD H. Damanhuri, dr. Nanda Sujud Andi Yudha
Utama, Sp.B, dalam sambutannya menyatakan bahwa kegiatan rutin bulanan ini
bertujuan untuk memberikan penyegaran rohani bagi para karyawan. Ia berharap
melalui nasihat para ulama, seluruh staf rumah sakit dapat melayani masyarakat
dengan lebih sabar dan ikhlas, mengingat beban psikologis yang dihadapi pasien
dan keluarganya.
Sesi tanya jawab menjadi bagian menarik ketika para tenaga
medis berkonsultasi mengenai dilema etika dan hukum Islam dalam pelayanan,
seperti prioritas penanganan darurat di waktu salat, hingga pelayanan
pemulasaraan jenazah non-muslim. KH. Syamsuni Ahmad menekankan pentingnya sikap
"bijaksana" (al-Hakim) bagi seorang pelayan publik, di mana
kemanusiaan harus tetap dijunjung tinggi sebagai bentuk penghormatan kepada
sesama makhluk ciptaan Allah.
Acara ditutup dengan pembacaan tahlil dan doa bersama untuk
keberkahan pelayanan kesehatan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah serta
penghormatan kepada almarhum Guru Sekumpul. (MA)